Masyarakat yang berusia diantara 25 hingga 60 tahun sedang berada dalam masa-masa produktif di mana tanggung jawabnya secara fisik, biologis, ekonomi dan sosial sangat dibutuhkan dan berkaitan erat dengan status kesehatannya. Salah satu penyakit degeneratif yang masa awitannya dimulai pada usia paruh baya dan berpotensi menyebabkan penurunan produktifitas masyarakat dan kualitas hidup di kemudian hari adalah Rhematoid Arthritis (RA). Tak hanya itu, proses penyakit RA dapat sudah berjalan selama bertahun-tahun sebelum muncul gejala klinis.

Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun progresif yang dicirikan oleh inflamasi kronis yang menyerang sistem otot dan sendi, walaupun tetap dapat melibatkan organ dan sistem tubuh secara keseluruhan. Gejala RA pada masing-masing orang berbeda dan bisa berubah seiring waktu, namun gejala yang sering timbul pada persendian, terutama pada kedua jari-jari tangan, adalah rasa kaku, kemerahan, bengkak, serta dapat terasa hangat, dan nyeri. Walaupun penyebab RA masih belum diketahui secara pasti, terdapat sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan angka kejadian RA. Di antaranya adalah faktor genetik, usia lanjut, jenis kelamin perempuan, hormonal, etnis, dan faktor lingkungan seperti merokok, infeksi, nutrisi, polutan, dan urbanisasi.

Pencegahan progresivitas RA dapatlah dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari mekanis seperti pemberian splint yang sesuai, maupun obat-obatan sesuai tingkat keparahan RA saat perjumpaan pertama dengan dokter. Oleh karena itu, sangatlah penting agar RA dapat dideteksi sejak dini, ditangani, dan dicegah progresivitasnya. Karena jika dibiarkan bertambah parah, proses kerusakannya dapat menyebar ke bagian tubuh lain, menyebabkan persendian bergeser, atau bahkan berubah bentuk secara permanen. Pada tahap akhir jika sudah amat mengganggu fungsi tangan dan kehidupan sehari-hari, dapatlah dilakukan tindakan operasi untuk restorasi fungsi sendi yang terjangkit dengan RA.

Article